Timor Leste Desak Thailand–Kamboja Hentikan Konflik

POTRET BERITA — Xanana Gusmao, Perdana Menteri Timor Leste, menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan antara Thailand dan Kamboja. Ia menegaskan bahwa kedua negara harus segera membuka ruang dialog untuk menghentikan aksi saling serang yang kembali meletus di wilayah perbatasan.

Usai bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Xanana menyampaikan bahwa perpecahan antarnegara ASEAN tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, dialog merupakan satu-satunya jalan untuk mencegah konflik semakin meluas dan merugikan warga sipil.

Tujuan Timor Leste Bergabung ke ASEAN

Xanana menekankan bahwa Timor Leste memilih menjadi bagian dari ASEAN karena ingin turut membangun kawasan yang damai dan stabil. Ia berharap ASEAN mampu menjadi contoh bagi dunia bahwa 11 negara anggotanya bisa menjaga keharmonisan dan menyelesaikan perselisihan tanpa kekerasan.

Ia juga mengingatkan bahwa Timor Leste memiliki sejarah kelam terkait konflik, yakni operasi militer Indonesia ke Dili lima dekade lalu. Bagi Xanana, masa lalu tersebut menjadi pengingat bahwa perang hanya membawa luka yang dalam, sementara kerja sama dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Desakan kepada Malaysia dan Filipina

Melihat situasi yang memburuk, Timor Leste meminta Malaysia—sebagai Ketua ASEAN saat ini—dan Filipina yang akan memimpin ASEAN pada 2026 untuk mengambil peran aktif dalam mendorong kedua negara bertikai duduk bersama. Xanana menegaskan bahwa peran mediasi ASEAN sangat penting agar konflik tidak semakin membesar.

Seruan serupa juga datang dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Melalui pernyataannya di platform X, Anwar menyampaikan duka cita atas korban jiwa dan meminta Thailand serta Kamboja mengedepankan jalur diplomatik. Ia menilai kedua negara adalah mitra dekat Malaysia sekaligus pilar penting dalam stabilitas Asia Tenggara.

Anwar menegaskan bahwa kawasan ini tidak boleh terjebak dalam spiral permusuhan. Prioritas utama, tegasnya, adalah menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil, dan mengembalikan situasi ke meja perundingan.

Akar Konflik dan Serangan Balasan di Perbatasan

Bentrok terbaru pecah saat seorang tentara Thailand tewas dan empat lainnya terluka dalam insiden baku tembak pada Senin dini hari. Thailand menuding Kamboja sebagai pihak yang memulai serangan, namun Kamboja membantah dan balik menuduh militer Thailand.

Kondisi semakin memanas ketika Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang fasilitas militer Kamboja. Tak tinggal diam, Kamboja disebut membalas dengan meluncurkan roket ke wilayah pemukiman Thailand di Buri Ram, yang mengakibatkan sejumlah warga sipil terluka.

Sebenarnya, kedua pihak telah berada dalam gencatan senjata yang disepakati melalui mediasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun, kedua negara saling menuding telah melanggar perjanjian tersebut.

Konflik Thailand-Kamboja sebelumnya juga pecah pada Juli lalu dan berlangsung selama lima hari sebelum kesepakatan damai ditandatangani di Kuala Lumpur. Pertempuran itu menewaskan puluhan orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi.

ASEAN Diharapkan Ambil Langkah Tegas

Dengan sejarah konflik yang terus berulang, Xanana berharap ASEAN tampil lebih tegas dalam meredam pertikaian di kawasan. Ia menegaskan bahwa kehadiran Timor Leste di ASEAN memiliki misi jelas: memastikan Asia Tenggara menjadi wilayah yang tidak lagi menyimpan pertikaian antarnegara.