- Nilai Tukar Rupiah Terpuruk, Ini Sorotan Media Asing
- Prancis Perketat Sanksi, Kapal Tanker Diduga Milik Rusia Ditahan
- Ketegangan dengan China Dorong Jepang Bentuk Dewan Intelijen Baru
- Gelombang Protes Guncang Serbia, Publik Minta Aleksandar Vucic Diganti
- BPA Fair 2026 Catat Penjualan 300 Barang Sitaan
Nilai Tukar Rupiah Terpuruk, Ini Sorotan Media Asing
POTRET BERITA — Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan berbagai media internasional. Sejumlah media asing menilai pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang memicu kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Rupiah tercatat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6). Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam sejarah dan langsung menarik perhatian media-media internasional.
Media Asing Soroti Dampak Konflik Global
Media asal Qatar, Al Jazeera, menyoroti pelemahan rupiah yang dinilai berkaitan erat dengan melonjaknya harga energi dunia akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam laporannya, Al Jazeera menyebut rupiah telah mencapai level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya biaya energi global.
Menurut media tersebut, Indonesia masih bergantung pada impor energi walaupun memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar. Kenaikan harga energi kemudian memberikan tekanan pada neraca perdagangan dan memicu arus keluar modal dari pasar domestik, yang pada akhirnya memperlemah nilai tukar rupiah.
Kritik terhadap Respons Pemerintah dan Bank Indonesia
Sementara itu, media berbasis di Hong Kong, Asia Times, menilai pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan oleh penguatan dolar AS. Dalam artikelnya yang berjudul Indonesia’s Rupiah Rout Is Not Just About the Dollar, media tersebut menyoroti respons pemerintah dan Bank Indonesia yang dianggap terlambat dalam menghadapi tekanan pasar.
Asia Times menilai penurunan nilai tukar yang berlangsung selama dua bulan terakhir menunjukkan adanya ketidakseimbangan pasar yang lebih serius. Mereka menyebut pelemahan rupiah dipicu kepanikan pasar, keluarnya modal dalam jumlah besar, serta terbatasnya likuiditas dolar AS di pasar domestik.
Media tersebut juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang lebih mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan tersebut dinilai belum mampu menghentikan laju pelemahan mata uang nasional.
Pandangan serupa datang dari media Singapura, The Straits Times. Dalam laporannya, media tersebut menyoroti rekor terendah rupiah yang terjadi bersamaan dengan melemahnya pasar saham Indonesia. Menurut mereka, investor khawatir harga minyak yang tetap tinggi akan memberikan tekanan tambahan terhadap kondisi fiskal pemerintah.
Tak hanya faktor energi, The Straits Times juga menilai sentimen pasar dipengaruhi kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah yang memperketat pengawasan sektor komoditas strategis.
Pengumuman Presiden Prabowo Subianto terkait rencana pengendalian ekspor sejumlah komoditas utama disebut ikut menambah kehati-hatian investor dalam menempatkan modal di Indonesia.
