Lautan Massa Sambut Iring-Iringan Jenazah Khamenei
POTRET BERITA — Jutaan warga datang dan memadati jalanan Teheran untuk mengikuti prosesi iring-iringan jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Senin (6/7). Upacara tersebut menjadi salah satu prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah modern Iran setelah jenazah Khamenei disemayamkan selama dua hari di ibu kota.
Berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran, IRIB, iring-iringan bergerak dari Teheran menuju Kota Qom dan disambut lautan masyarakat yang telah berkumpul sejak pagi.
Ribuan warga memenuhi Lapangan Imam Hussein di Teheran timur untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang telah memimpin Iran selama puluhan tahun.
Di sepanjang prosesi, sejumlah peserta juga membawa berbagai atribut dan simbol politik. Salah satunya adalah patung tiruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terlihat digantung oleh sebagian massa.
Komandan senior Garda Revolusi Iran, Jenderal Hassan Hassanzadeh, mengimbau masyarakat agar tetap menjaga ketertiban selama prosesi berlangsung. Ia meminta seluruh peserta mengikuti arahan petugas saat bergerak menuju Lapangan Azadi yang diperkirakan menjadi pusat berkumpulnya massa.
Prosesi Berlanjut ke Kota-Kota Suci

Pemerintah Iran telah menyusun rangkaian pemakaman yang berlangsung selama beberapa hari. Setelah prosesi di Teheran, jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa ke Kota Qom hingga 7 Juli sebelum diterbangkan ke dua kota suci Syiah di Irak, yakni Najaf dan Karbala, pada 8 Juli.
Selanjutnya, jenazah akan kembali ke Iran untuk dimakamkan di Kota Mashad pada 9 Juli.
Pihak berwenang memperkirakan jumlah pelayat kali ini melampaui prosesi pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Karena itu, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tetap tertib demi menghindari insiden serupa yang pernah terjadi puluhan tahun lalu.
Saat pemakaman Khomeini, kericuhan sempat pecah akibat membludaknya massa. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengalami luka-luka setelah warga berebut mendekati peti jenazah.
Bahkan kondisi tersebut memaksa aparat menggunakan helikopter untuk membawa peti demi mengendalikan situasi.
Prosesi pemakaman Khamenei baru dapat dilaksanakan setelah konflik bersenjata antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat mereda. Sebelumnya, upacara sempat ditunda karena situasi keamanan yang belum kondusif akibat perang yang berlangsung selama lebih dari dua bulan.
Kini, di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung, pemerintah Iran memanfaatkan prosesi tersebut sebagai momentum untuk menunjukkan persatuan nasional sekaligus ketahanan negara setelah melewati konflik berkepanjangan.
