- Kesepakatan Bersejarah AS-Iran, Trump dan Pezeshkian Teken Nota Perdamaian
- Ruang Bandara Israel Menipis Akibat Tanker Militer AS
- Kasus MBG Bertambah, Orang Dekat Sony Sonjaya Jadi Tersangka
- Imigrasi Bongkar Dugaan Love Scamming WNA di Semarang Barat
- Nilai Tukar Rupiah Terpuruk, Ini Sorotan Media Asing
Kesepakatan Bersejarah AS-Iran, Trump dan Pezeshkian Teken Nota Perdamaian
POTRET BERITA — Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penandatanganan dokumen tersebut menjadi awal baru dalam hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun diwarnai dengan ketegangan.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengunggah sejumlah foto yang memperlihatkan momen Pezeshkian membubuhkan tanda tangannya pada dokumen yang sebelumnya telah ditandatangani oleh Trump.

Dalam foto tersebut, Presiden Iran juga tampak memperlihatkan lembar MoU yang telah ditandatangani kedua pemimpin.
Sebelumnya, Trump lebih dulu meneken dokumen tersebut pada Rabu (17/6) di sela-sela pertemuan para pemimpin negara G7 di Istana Versailles, Prancis. Penandatanganan dilakukan saat jamuan makan malam berlangsung, ketika Trump duduk di antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Ibu Negara Prancis Brigitte Macron.
Setelah acara tersebut, Trump mengonfirmasi bahwa dokumen kesepahaman damai antara Washington dan Teheran telah resmi ditandatangani.

“Sudah ditandatangani,” kata Trump singkat setelah meninggalkan Istana Versailles.
Tak lama usai pengumuman itu, IRNA merilis sejumlah poin penting yang termuat dalam MoU damai antara AS dan Iran. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian perang di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penghentian seluruh sanksi yang selama ini diberlakukan Washington terhadap Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan penandatanganan secara digital antara kedua presiden berdampak pada agenda diplomatik lanjutan yang sebelumnya telah direncanakan.
Menurut Baghaei, pertemuan antara delegasi Iran dan Amerika Serikat di Swiss yang semula dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6) diputuskan untuk ditunda.
“Pertemuan Jumat terkonfirmasi sampai beberapa jam lalu, tapi ketika akhirnya kedua presiden (Iran dan AS) mau menandatangani (MoU secara digital), pertemuan Jumat pun diputuskan akan ditunda,” ujar Baghaei.
Walau demikian, laporan Al Jazeera mengatakan pertemuan antara tim negosiasi kedua negara di Swiss tetap akan digelar. Namun, agenda tersebut tidak lagi mencakup peresmian penandatanganan MoU karena prosesnya sudah dilakukan oleh kedua kepala negara.
Kesepakatan damai ini dipandang sebagai perkembangan signifikan di tengah hubungan AS-Iran yang selama ini dipenuhi ketegangan, terutama terkait isu program nuklir, sanksi ekonomi, dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian sanksi terhadap Iran juga dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap keamanan kawasan dan perekonomian global, mengingat jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu rute penting perdagangan minyak dunia.
