Sidang Maradona Memanas, Polisi Lerai Dua Pengacara
POTRET BERITA — Persidangan dugaan kelalaian medis yang berkaitan dengan meninggalnya legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, kembali menyita perhatian publik. Kali ini, sorotan bukan hanya tertuju pada jalannya pemeriksaan saksi, tetapi juga pada kericuhan yang melibatkan dua pengacara dari kubu berbeda hingga nyaris berujung bentrokan fisik.
Sidang yang digelar di San Isidro, Argentina, tersebut masih berupaya mengungkap ada atau tidaknya unsur kelalaian dalam penanganan medis yang diterima Maradona sebelum meninggal dunia pada November 2020. Proses hukum ini telah berlangsung sejak April lalu dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan.
Suasana persidangan berubah tegang ketika seorang saksi memberikan keterangannya di hadapan majelis hakim. Perbedaan pandangan antara tim kuasa hukum keluarga Maradona dan pengacara para terdakwa memicu adu argumen yang semakin memanas.
Keributan Berlanjut hingga Luar Ruang Sidang
Ketegangan melibatkan Fernando Burlando yang mewakili dua putri Maradona dan Francisco Oneto sebagai kuasa hukum terdakwa utama. Perdebatan di dalam ruang sidang membuat jalannya persidangan sempat dihentikan sementara.
Namun, ketegangan tidak mereda setelah sidang diskors. Kedua pengacara kembali berhadapan di luar ruang persidangan dan saling melontarkan kata-kata bernada provokatif di depan wartawan, aparat keamanan, serta sejumlah pengacara lainnya.
Burlando sempat menantang Oneto dengan nada tinggi. Oneto pun membalas dengan makian sehingga situasi semakin memanas. Beruntung, seorang jaksa bersama petugas kepolisian bergerak cepat memisahkan keduanya sebelum pertikaian berubah menjadi kontak fisik.
Keributan tersebut bermula ketika Burlando melontarkan sindiran yang menyinggung kehidupan pribadi Oneto saat keduanya berdebat di ruang sidang. Merasa tersinggung, Oneto langsung berdiri dari kursinya dan meminta agar persoalan diselesaikan di luar ruang sidang.
Perselisihan antara kedua pengacara ini bukan hal baru. Sejak awal persidangan, keduanya beberapa kali terlibat perdebatan sengit yang membuat suasana sidang memanas. Meski demikian, proses pemeriksaan tetap berjalan sesuai agenda yang telah ditetapkan pengadilan.
Tujuh Tenaga Medis Terancam Hukuman Penjara
Di balik kericuhan tersebut, fokus utama persidangan tetap mengarah pada dugaan kelalaian tujuh tenaga medis yang menangani Maradona pada masa-masa terakhir hidupnya.
Legenda sepak bola dunia itu meninggal dunia pada 25 November 2020 di kediamannya di Tigre, wilayah utara Buenos Aires. Saat itu, Maradona tengah menjalani masa pemulihan usai menjalani operasi otak. Hasil pemeriksaan menyebutkan ia meninggal akibat edema paru yang disertai henti jantung dan pernapasan.
Jaksa menilai para tenaga medis diduga tidak memberikan penanganan yang memadai selama proses perawatan di rumah. Karena itu, mereka didakwa melakukan pembunuhan dengan kesengajaan melalui kelalaian.
Tujuh terdakwa dalam perkara ini terdiri dari:
- psikiater Agustina Cosachov,
- ahli bedah saraf Leopoldo Luque,
- psikolog Carlos Diaz,
- dokter Nancy Edith Forlini,
- dokter Pedro Pablo Di Spagna,
- perawat Ricardo Almiron,
- serta kepala perawat Mariano Ariel Perroni.
Seluruh terdakwa membantah dakwaan yang diajukan jaksa. Mereka menegaskan telah menjalankan tugas sesuai prosedur medis dan tidak melakukan tindakan yang menyebabkan kematian Maradona.
Persidangan diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Agustus dengan agenda mendengarkan keterangan saksi serta memeriksa berbagai bukti yang diajukan kedua belah pihak. Jika nantinya terbukti bersalah, ketujuh terdakwa menghadapi ancaman hukuman penjara mulai delapan hingga 25 tahun.
Kasus ini terus menjadi perhatian masyarakat Argentina karena menyangkut sosok Maradona yang dianggap sebagai salah satu ikon terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Hasil persidangan nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian hukum sekaligus menjawab berbagai pertanyaan mengenai penanganan medis yang diterima sang legenda pada hari-hari terakhir kehidupannya.
