- Warga Kyiv Pantau Pergerakan Rudal Rusia Lewat Kanal Telegram
- Korut Luncurkan Rudal dari Wonsan, Jepang Langsung Bereaksi
- Penembakan Sekolah Thailand, Siswa Ungkap Cara Bertahan dari Serangan
- Kasus Pilot Malaysia Airlines, Polisi Malaysia Datangi Indonesia
- Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Serangan Kembali Memakan Korban
Warga Kyiv Pantau Pergerakan Rudal Rusia Lewat Kanal Telegram
POTRET BERITA — Bagi sebagian warga Kyiv, suara sirene bukan satu-satunya tanda bahaya. Mereka juga memantau Telegram untuk mengetahui pergerakan rudal dan drone Rusia yang mengarah ke wilayah mereka.
Sejumlah kanal Telegram kini menjadi sumber informasi penting bagi masyarakat Ukraina. Kanal-kanal tersebut memberikan peringatan mengenai potensi serangan dan memperbarui informasi berdasarkan pergerakan senjata yang terdeteksi.
Salah satu kanal yang banyak digunakan adalah Aeris Rimor. Kanal tersebut memiliki sekitar 150 ribu pengikut dan dikelola oleh seorang pemuda berusia 19 tahun dengan nama samaran Esko.
AFP mendapat kesempatan mengikuti aktivitas Esko dari dekat. Namun, ia meminta identitas asli serta sejumlah informasi mengenai cara kerja operasinya tidak dipublikasikan.
Esko biasanya melakukan pemantauan dari rumah. Ketika situasi masih tenang, ia mengisi waktu dengan menonton serial Criminal Minds atau berlatih menerbangkan drone melalui simulator.
Suasana berubah ketika serangan mulai terdeteksi. Dalam salah satu pemantauan, peringatan serangan udara berbunyi 26 menit setelah tengah malam.
Tak lama kemudian, sebuah titik merah muncul di peta yang berada di depan Esko.
“Oh, ada rudal menuju Kyiv,” katanya, dikutip AFP.
Ia langsung membuka Telegram dan mengirim peringatan kepada para pengikutnya. Pesan tersebut berbunyi “TARGET KYIV!”
Esko kemudian memperkirakan rudal akan mencapai Kyiv sekitar satu menit kemudian. Ia juga mencantumkan sejumlah distrik yang berpotensi menjadi sasaran.
Beberapa detik setelah peringatan dikirim, suara ledakan terdengar di berbagai bagian ibu kota Ukraina.
Warga Mengandalkan Informasi dari Telegram
Esko menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memantau pergerakan senjata Rusia. Ia mengatakan pemantauan harus dilakukan terus-menerus karena situasi dapat berubah dalam hitungan detik.
Dalam aktivitasnya, Esko memantau peta langsung yang digunakan oleh unit pertahanan udara Ukraina. Peta tersebut menunjukkan pergerakan drone dan rudal yang terdeteksi.
Ia tidak menjelaskan bagaimana bisa memperoleh akses terhadap informasi tersebut. Kanal seperti Aeris Rimor berada dalam posisi yang cukup rumit karena informasi yang mereka gunakan dapat bersinggungan dengan data sensitif militer.
Walau demikian, keberadaan kanal pemantauan sipil masih ditoleransi oleh pihak berwenang Ukraina. Kanal-kanal tersebut dianggap membantu masyarakat mendapatkan informasi lebih cepat ketika serangan berlangsung.
Informasi itu menjadi semakin penting karena Rusia meningkatkan penggunaan rudal balistik dalam serangan malam. Senjata tersebut dapat mencapai Kyiv hanya dalam beberapa menit setelah peringatan serangan berbunyi.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengambil keputusan dengan cepat. Mereka bisa menuju tempat perlindungan, termasuk stasiun metro. Namun, mereka juga harus bersiap menghabiskan malam di sana.
Pilihan lainnya adalah tetap berada di rumah. Keputusan tersebut tentu memiliki risiko, terutama bagi warga yang tinggal di gedung bertingkat dan berada di kawasan yang diperkirakan menjadi sasaran.
Karena itu, sebagian warga memantau beberapa kanal Telegram sekaligus. Mereka membandingkan informasi sebelum menentukan langkah.
Hal tersebut dilakukan Kateryna Reshetnyk, perempuan berusia 34 tahun yang tinggal di Kyiv. Pada suatu malam, ia menerima informasi yang berbeda-beda mengenai kemungkinan serangan.
Setelah membandingkan beberapa kanal yang selama ini dianggap cukup akurat, Kateryna akhirnya memilih pergi ke stasiun metro bersama ibu dan neneknya.
Mereka membawa kursi lipat untuk digunakan sebagai tempat tidur. Warga lain juga datang dengan membawa bantal, alas tidur, tenda, bahkan hewan peliharaan.
“Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup,” ujar Kateryna.
Ia mengatakan informasi dari kanal pemantauan membantu keluarganya memahami kondisi di sekitar Kyiv. Mereka juga bisa mengetahui situasi kerabat, teman, dan kolega yang tinggal di wilayah berbeda.
Angkatan Udara Ukraina Beri Peringatan
Angkatan Udara Ukraina mengetahui keberadaan kanal-kanal pemantauan tersebut. Juru bicara Yuri Ignat mengatakan pihaknya tidak bisa melarang aktivitas mereka.
Menurutnya, kanal tersebut memang memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat. Namun, pengelola tetap harus berhati-hati ketika membagikan informasi.
“Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan,” ujar Ignat kepada AFP.
Ia meminta pengelola kanal tidak mengunggah informasi secara berlebihan. Informasi tertentu berpotensi dimanfaatkan oleh Rusia untuk mengetahui posisi atau aktivitas pertahanan Ukraina.
Di sisi lain, Esko memahami bahwa setiap informasi yang ia unggah dapat memengaruhi keputusan seseorang.
Tanggung jawab tersebut membuat sebagian besar waktunya tersita di depan layar. Ia harus memantau pergerakan ratusan drone dan memberikan peringatan ketika ancaman mulai muncul.
Waktu tidurnya pun menjadi terbatas. Namun, Esko justru merasa malam yang penuh aktivitas lebih mudah dihadapi dibandingkan situasi tenang.
Menurutnya, ketenangan terkadang membuat warga semakin cemas. Mereka khawatir Rusia sedang menyiapkan serangan berikutnya.
“Anda terus menunggu, menunggu, menunggu, kemudian mulai mengunggah peringatan karena ketegangan meningkat. Namun, tidak terjadi apa-apa. Anda mengunggah lagi, dan tidak terjadi apa-apa… Lalu mereka menyerang,” ujar Esko.
