Whoops! Google Sensor Konten Politik? Mengejutkan

Potretberita.com – Info terbaru tentang sensor politik yang akan dilakukan oleh Google sangat menarik perhatian. Tetapi tidak ada faktor mengejutkan dari informasi ini. Siapa yang tidak tahu apa yang Google lakukan pada saat ini sih?

Mantan karyawan Google Zachary Vorhies mengatakan bahwa ia menghabiskan satu tahun mengumpulkan dokumen yang membuktikan bahwa Google menggunakan sistem “fringe ranking” yang bias ketika berbicara tentang politik dan memakai sistem blacklist atau daftar hitam website yang tidak diinginkan.

Mengejutkan? Saya rasa tidak.  Karyawan Google di kantor Silicon Valley telah “menurunkan ranking dan mencabut” situs web yang jatuh dari agenda politik Google.

Informasi yang dibocorkan Vorhies tidak banyak, dengan pengecualian beberapa situs, banyak di antaranya menemukan diri mereka dibuang ke “daftar hitam”. Media liberal sebagian besar mengabaikan informasi tersebut. Ini karena Project Veritas yang dipimpin oleh James O’Keefe itu konservatif dan mereka tidak suka menutupi informasi, terlepas dari seberapa legitimate nya itu.

Mereka juga mengungkap beberapa informasi; yang paling memalukan, ia menangkap seorang reporter CNN yang mengakui bahwa kisah Russiagate, yang menghabiskan banyak media Amerika selama tiga tahun, sebagian besar omong kosong tetapi peringkatnya luar biasa tinggi.

The Daily Beast memang menutupi kebocoran informasi, tetapi dengan satu-satunya tujuan mempertanyakan kredibilitas Vorhies. Tampaknya, ia merupakan pendorong teori konspirasi QAnon, yang telah mencoba-coba Pizzagate dan telah mem-post beberapa tweet anti-semitic. Bahkan O’Keefe mengakui hal ini, tweeting pada hari Rabu bahwa “tidak semua sumber itu benar.”

Jika informasinya akurat, kepentingan pribadi Vorhies seharusnya tidak relevan dalam kasus ini. Namun jika anda masih ingat waktu DNC terungkap mencurangi primer 2016 melawan Bernie Sanders, satu-satunya yang ingin dibicarakan CNN dan media lain adalah… Rusia.

Media mungkin telah menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk membahas tentang entitas asing yang kuat yang memengaruhi pemilihan mereka, tetapi Google mendapat kebebasan. Mantap, bukan? Well, Google memang perusahaan teknologi yang paling kuat sih, mereka bisa – sangat bisa – mempengaruhi opini publik.

Informasi yang diberikan Vorhies ini merupakan bukti kuat bahwa Google tidak benare-benar netral ketika mengklaim bahwa bias politik tidak memengaruhi hasil pencarian. Seorang karyawan Google kedapatan mengakui bahwa perusahaan sedang berusaha “mencegah situasi Trump berikutnya”. Raksasa teknologi itu telah mendorong karyawannya untuk bergabung dengan protes “perlawanan” – dan menghapus konten yang kritis terhadapnya dari YouTube. Tentu saja, YouTube yang sudha resmi dimiliki Google.

Algoritma Google “don’t write themselves” merupakan sesuatu yang manipulatif. Mengutip dari kata karyawan Google, mereka menulis apa yang Google mau mereka tulis.

Desas-desus mengatakan bahwa Google, Facebook, dan Twitter hanya menyensor pandangan konservatif. O’Keefe bahkan berpendapat bahwa Google memiliki “agenda sosial yang menakutkan dan progresif.” Ada beberapa kebenaran sejauh menyangkut masalah sosial seperti aborsi, tetapi di situlah “agenda progresif” Google berakhir.

Fakta bahwa Google secara konsisten memberi peringkat situs-situs yang condong ke arah yang sama seperti New York Times, Washington Post, MSNBC dan CNN juga menjadi bukti. Jika anda perhatikan, situs-situs tersebut memiliki kredibilitas lebih tinggi daripada yang memiliki pandangan yang berbeda dari Google. Namun, beberapa konteks penting diperlukan di sini. Breitbart, pendukung konservatif, menganggap CNN sebagai “liberal”. Aneh? Yes. Karena CNN merupakan pendukung partai konservatif.

Sudah diketahui selama bertahun-tahun bahwa Google secara aktif menghapus peringkat situs-situs sosialis dan benar-benar konten yang condong subversif – kategori yang CNN dan kru-nya – tidak masuk ke dalam daftarnya.

Google bukan pendukung sosialis sepenuhnya. Itu hanya pendukung status quo dan neoliberalisme. Tidak akan ada media yang akan mengkhawatirkan itu di saat-saat sekarang.

Terlebih lagi, di saat ini, jarang ada – bukan berarti tidak ada – media yang netral. Bahkan, perusahaan teknologi sekarang sudah tak lagi netral dalam hal politik. Tidak ada satu pun perusahaan besar yang bisa netral dalam urusan politik. Mereka pasti mendukung partai yang dapat menguntungkan perusahaannya.