- Pencegahan ke Luar Negeri Eks Menag Yaqut dan Gus Alex Diperpanjang KPK
- Eks Kapolres Bima Positif Narkoba, Uji Rambut Nyatakan Positif
- Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae Masuk Tahap Suksesi Kekuasaan
- Dua Pejabat Kunci Downing Street Mundur Usai Skandal Epstein Seret Pemerintahan Starmer
- Rusia Desak Investigasi Kematian Putra Khadafi
Menkes Tegaskan Influenza H3N2 Masih Terkendali
POTRET BERITA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Influenza A (H3N2) subclade K yang kerap disebut sebagai super flu tidak berbahaya dan tidak berpotensi menjadi pandemi mematikan seperti Covid-19. Menurutnya, penyakit tersebut masih tergolong influenza musiman dengan tingkat kematian yang sangat rendah.
Budi menjelaskan bahwa virus tersebut bukan varian baru. Meski penyebarannya relatif cepat, dampak klinisnya tergolong ringan dan dapat ditangani dengan pengobatan standar.
“Ini bukan virus baru seperti Covid. Penularannya memang cepat, tapi angka kematiannya sangat kecil. Di negara-negara maju, peningkatan kasus seperti ini sering terjadi saat musim dingin. Di Indonesia sendiri jumlah kasus yang terdeteksi masih puluhan dan tidak tergolong parah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1).
Ia menambahkan, sebagian besar pasien dapat pulih dengan sendirinya tanpa perawatan khusus.
Imunitas Jadi Kunci Utama
Budi mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi isu super flu. Ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh sebagai benteng utama melawan infeksi virus.
“Selama sistem imun kita baik, makan cukup, tidur cukup, dan rutin berolahraga, insyaallah kalau ada virus masuk—apalagi virusnya lemah seperti ini—tubuh bisa melawannya,” kata Budi.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada, terutama di lingkungan dengan banyak orang yang mengalami gejala flu.
“Kalau di sekitar kita banyak yang batuk atau pilek, sebagai langkah pencegahan sebaiknya gunakan masker dan rajin mencuci tangan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman memaparkan hasil pemantauan laboratorium terkait influenza di berbagai daerah. Dari sekitar 800 sampel yang diuji, sekitar 40 persen menunjukkan hasil positif influenza.
Dari hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS), ditemukan beberapa jenis virus influenza, antara lain Influenza A (H1N1) pdm09, Influenza A (H3N2) subclade K sebanyak 62 kasus, serta Influenza B.
“Hasil WGS menunjukkan adanya H1N1 yang dulu sempat menjadi pandemi tahun 2009, H3N2 subclade K, dan Influenza B,” jelas Aji.
Aji memastikan bahwa seluruh pasien yang terdeteksi terinfeksi H3N2 subclade K telah dinyatakan sembuh. Data tersebut diperoleh pada minggu ke-36 tahun 2025 atau awal September.
“Tidak ada pasien yang mengalami kondisi berat, apalagi sampai meninggal dunia. Semua sudah kembali sehat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa gejala super flu umumnya tidak berbeda jauh dengan influenza biasa, seperti demam tinggi, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak napas ringan.
“Keluhan yang paling sering muncul adalah demam, dengan suhu bisa mencapai 38 hingga 39 derajat Celsius,” ujar Aji.
Pengawasan Tetap Diperketat
Meski situasi masih terkendali, Kementerian Kesehatan terus memperkuat sistem pemantauan. Pengawasan dilakukan melalui Sentinel ILI/SARI di 88 puskesmas, laboratorium daerah, rumah sakit, serta Balai Karantina di pintu masuk negara yang dilengkapi thermal scanner.
“Dengan sistem ini, pergerakan orang dari dan ke luar negeri bisa dipantau dengan baik. Dari situ, kebijakan yang diambil akan disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan,” jelas Aji.
Ia menegaskan bahwa kebijakan kesehatan tidak bisa disamaratakan dengan negara lain, melainkan harus disesuaikan dengan situasi epidemiologis di Indonesia.
