Drone Rusia Kembali Serang Ukraina, 12 Orang Tewas

POTRET BERITA — Seperti diberitakan, Rusia kembali melancarkan serangan udara ke Ukraina yang menewaskan sedikitnya 12 orang. Serangan ini dilakukan hanya beberapa jam setelah muncul kabar perundingan damai terbaru antara kedua negara.

Serangan yang terjadi pada Minggu (1/2) ini langsung menuai kecaman karena menyasar warga sipil.

Berdasarkan laporan, serangan drone Rusia menghantam sebuah bus yang membawa pekerja sektor energi di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina tenggara. Insiden ini terjadi tak lama setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan rencana lanjutan dialog damai.

Menteri Energi Ukraina Denys Shmyhal menyebut serangan tersebut sebagai aksi yang disengaja dan brutal. Ia menegaskan para korban merupakan pekerja tambang yang baru saja menyelesaikan giliran kerja.

Bus Pekerja Energi Jadi Sasaran

Shmyhal menjelaskan, bus yang diserang tengah membawa para pekerja pulang usai shift kerja. Akibat serangan itu, 12 orang dilaporkan tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.

Rekaman dari Layanan Darurat Negara Ukraina menunjukkan kondisi bus yang hangus terbakar dengan kaca jendela pecah dan badan kendaraan keluar jalur. Perusahaan energi DTEK selaku pemberi kerja korban membenarkan bahwa para pekerja berada dalam perjalanan pulang saat serangan terjadi.

Selain serangan terhadap bus, drone Rusia juga menghantam sebuah rumah di Kota Dnipro dan menewaskan sedikitnya dua orang. Sementara itu, di wilayah Zaporizhzhia, serangan udara melukai sembilan orang setelah mengenai rumah sakit bersalin dan kawasan permukiman.

Seorang warga Zaporizhzhia, Daria Makarenko (29), mengungkapkan kemarahannya setelah rumah tetangganya rusak parah. Ia mempertanyakan bagaimana serangan terhadap warga sipil masih terus terjadi di tengah wacana gencatan senjata.

Sementara itu, veteran Ukraina Anatoliy Veresenko (65) mengaku tidak menaruh harapan besar pada proses perundingan. Menurutnya, Ukraina tetap harus bersiap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.

Perundingan Damai Belum Temui Titik Terang

Di tengah eskalasi serangan, Ukraina saat ini berada di bawah tekanan Amerika Serikat untuk menyetujui kesepakatan damai. Konflik Rusia-Ukraina sendiri hampir memasuki tahun keempat.

Perundingan trilateral pertama antara Ukraina dan Rusia yang didukung AS telah digelar pada akhir Januari, namun belum menghasilkan kemajuan berarti, terutama terkait isu wilayah. Moskow masih menuntut Kyiv menyerahkan tambahan wilayah di Ukraina timur, tuntutan yang hingga kini ditolak tegas oleh pemerintah Ukraina.

Zelensky menyatakan putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Februari dan menegaskan kesiapan Ukraina untuk terlibat dalam dialog. Namun, di saat bersamaan, serangan udara Rusia terus menargetkan jaringan energi nasional Ukraina di tengah musim dingin ekstrem.

Sebelumnya, Kremlin sempat menyatakan kesediaan menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi atas permintaan Presiden AS Donald Trump, dan Ukraina mengaku siap mengikuti langkah tersebut. Meski demikian, serangan terbaru ini menimbulkan tanda tanya besar atas komitmen tersebut.