- Resmi! Polri Pecat Eks Kapolres Ngada AKBP Fajar
- Buntut Kontroversi, Brand-brand Mulai Hilangkan Iklan Kim Soo-hyun
- Ratusan Rumah di Purwakarta Terendam Air Imbas Tanggul Sungai Jebol
- Ultimatum China ke Trump: Siap Perang Dalam Bentuk Apa Pun
- Meninggalnya Dua Pendaki Wanita Lilie dan Elsa di Puncak Carstensz
Kebutuhan Pemerintah Dalam Pengadaan Laptop Targetkan Produsen Lokal

POTRET BERITA — Pemerintah berencana akan memenuhi kebutuhan pengadaan laptop tahun ini dari produsen dalam negeri. Ada sebanyak 6 produsen laptop lokal yang memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 25 persen. Mereka disebut telah menyanggupi pemenuhan pengadaan tahun untuk ini.
Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan dalam konferensi pers virtual Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) pada sektor pendidikan, Kamis (22/7).
Namun, ia tidak merinci keenam produsen laptop lokal mana saja yang dimaksud. Tetapi Ia menuturkan bahwa enam produsen laptop dalam negeri dengan nilai TKDN lebih dari 25 persen telah menyanggupi pemenuhan pengadaan laptop tahun ini.
Luhut menerangkan bahwa kesiapan produksi laptop dalam negeri yakni 351 ribu unit pada September 2021 dan 718.100 unit pada bulan November 2021 mendatang. Untuk mencapai target penggunaan produk dalam negeri, Luhut mendorong pemerintah daerah untuk membeli produk tersebut.
“Pemda berkewajiban untuk mengalokasikan DAK fisik untuk membeli produk dalam negeri dan membelanjakan laptop 100 persen produk dalam negeri,” ujar Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Kemaritiman
Pada tahun ini, sambung Luhut, total kebutuhan laptop untuk pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencapai sebanyak 431.730 unit senilai Rp3,7 triliun.
Pendanaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sebesar Rp1,3 triliun untuk 189.165 unit dan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik sebanyak Rp2,4 triliun untuk 242.565 unit.
“Saat ini telah dilakukan penandatanganan kontrak atas penggunaan produk dalam negeri senilai Rp1,1 triliun,” imbuh Luhut.
Dana Rp17,42 Triliun
Pemerintah sendiri menyiapkan dana sebesar Rp17,42 triliun untuk untuk belanja produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada bidang pendidikan sepanjang 2021 hingga 2024. Dana tersebut akam dibelanjakan laptop, access point, konektor, LCD proyektor, layar proyektor, dan speaker aktif.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pengadaan barang TIK itu bersumber dari produk dalam negeri. Pasalnya, produk TIK dalam negeri pada bidang pendidikan masih rendah dibandingkan produk impor.
Nantinya, pengadaan barang TIK itu bersumber dari produk dalam negeri. Pasalnya, produk TIK dalam negeri pada bidang pendidikan masih rendah dibandingkan produk impor.
“Tujuan utama adalah meningkatkan penggunaan produk TIK dalam negeri di bidang pendidikan melalui pengadaan barang pemerintah yang ditargetkan Rp17 triliun pada 2024,” jelasnya dalam konferensi pers virtual Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) pada sektor pendidikan
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa laptop impor mendominasi pangsa pasar Indonesia yaitu sebanyak 95 persen dari total permintaan rata-rata 3 juta unit per tahun. Sisanya ada sebanyak 5 persen adalah produk laptop buatan dari dalam negeri.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Perindustrian, nilai impor laptop setiap tahunnya rata-rata mencapai nilai US$1 miliar, atau setara Rp14,49 triliun (mengacu pada kurs Rp14.494 per dolar AS). Laptop menjadi produk impor dengan nilai yang paling besar pada kelompok elektronika.
“Demand atau permintaan produk laptop di Indonesia ada sebesar 3 juta unit per tahun dengan market share produk impor masih 95 persen dan baru 5 persen untuk produk laptop dari dalam negeri,” kata Agus dalam kesempatan yang sama.