- Pencegahan ke Luar Negeri Eks Menag Yaqut dan Gus Alex Diperpanjang KPK
- Eks Kapolres Bima Positif Narkoba, Uji Rambut Nyatakan Positif
- Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae Masuk Tahap Suksesi Kekuasaan
- Dua Pejabat Kunci Downing Street Mundur Usai Skandal Epstein Seret Pemerintahan Starmer
- Rusia Desak Investigasi Kematian Putra Khadafi
Banjir Vietnam: 35 Tewas, 5 Hilang, Terparah dalam 60 Tahun Terakhir
POTRET BERITA — Hujan deras yang mengguyur wilayah tengah Vietnam sejak Minggu (2/11) memicu banjir besar yang menewaskan 35 orang dan menyebabkan lima orang lainnya hilang.
Badan Manajemen Bencana dan Tanggul Vietnam (VDDMA) melaporkan korban jiwa tersebar di provinsi Hue, Da Nang, Lam Dong, dan Quang Tri.
Di kota kuno Hoi An, air sungai meluap hingga setinggi pinggang. VDDMA menyebut ketinggian air kali ini merupakan yang tertinggi dalam 60 tahun terakhir.
“Semua orang terkejut setelah banjir ini. Warga sudah bersiap, tapi tak menyangka air naik setinggi ini,” ujar Chuong Nguyen, warga Hoi An, kepada AFP.
“Banyak orang tak sempat menyelamatkan barang-barangnya, semuanya rusak. Kami benar-benar tak berdaya,” tambahnya.
Data terbaru VDDMA menyebut lebih dari 16.500 rumah tenggelam akibat banjir yang melanda kawasan tengah Vietnam.
Selain itu, ribuan hewan ternak dan unggas hanyut terbawa arus, sementara 5.300 hektare lahan pertanian ikut terendam.
Kementerian Lingkungan Vietnam juga mencatat lebih dari 100.000 rumah terdampak banjir dan 150 titik tanah longsor terjadi di berbagai wilayah.

Pemerintah memperkirakan total kerugian ekonomi mencapai US$610 juta atau sekitar Rp9,64 triliun.
Banjir dan Tanah Longsor Renggut Ratusan Nyawa Sepanjang Tahun
Banjir besar ini menambah panjang daftar bencana yang melanda Vietnam pada 2025.
Selama sembilan bulan pertama tahun ini, bencana alam seperti badai, banjir, dan longsor telah menewaskan atau menyebabkan hilangnya 187 orang di seluruh negeri.
Vietnam dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan topan tropis di dunia.
Negara ini biasanya dilanda sekitar 10 topan per tahun, baik secara langsung maupun di lepas pantai. Namun, hingga 2025, jumlahnya meningkat menjadi 12 topan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah memperburuk dampak badai dan banjir di kawasan Asia Tenggara.
Pemanasan global membuat curah hujan semakin ekstrem, sementara kemampuan tanah dan sistem drainase menahan air menjadi semakin lemah.
Kondisi ini membuat banjir di Vietnam kian mematikan, menimbulkan kerusakan besar terhadap infrastruktur, lingkungan, dan perekonomian nasional.
