- Kim Yo Jong Sindir Korea Selatan Usai Trump Minta Latihan Militer Dikurangi
- Joe Taslim Masuk Daftar Pemain Extraction 3, Perannya Dirahasiakan
- Warga Kyiv Pantau Pergerakan Rudal Rusia Lewat Kanal Telegram
- Korut Luncurkan Rudal dari Wonsan, Jepang Langsung Bereaksi
- Penembakan Sekolah Thailand, Siswa Ungkap Cara Bertahan dari Serangan
Kim Yo Jong Sindir Korea Selatan Usai Trump Minta Latihan Militer Dikurangi
POTRET BERITA — Kim Yo Jong kembali melontarkan kritik terhadap Korea Selatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta agar latihan militer gabungan Washington dan Seoul dikurangi.
Adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un itu menilai keputusan tersebut memperlihatkan posisi Korea Selatan yang lemah dalam menentukan kebijakan pertahanannya sendiri. Ia bahkan menyindir Seoul karena dianggap tidak dapat mengambil keputusan tanpa mengikuti arahan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong pada Kamis (20/8) dan dikutip Korea JoongAng Daily. Ia menyebut penghentian atau pengurangan latihan militer secara tiba-tiba tanpa pembahasan terlebih dahulu sebagai situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Seoul ditempatkan dalam posisi yang menyedihkan di mana mereka harus meninggalkan ‘latihan perang’ favorit mereka karena satu pernyataan dari Trump, yang tiba-tiba memerintahkan pengurangan latihan,” kata Kim Yo Jong.
Kim Yo Jong Sindir Ketergantungan Korea Selatan pada AS
Kim Yo Jong kemudian melontarkan sindiran yang lebih tajam terhadap hubungan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Menurutnya, Korea Selatan berada dalam posisi seperti militer yang menyerahkan kewenangan komando kepada pihak lain sehingga tidak dapat menyampaikan keberatan ketika kebijakan latihan militer diubah.
“Ini adalah nasib militer boneka yang sudah mempercayakan wewenang komando kepada tuannya, sehingga mereka tak bisa mengucapkan protes satu kata pun,” ujarnya.
Kim Yo Jong juga menyoroti sikap Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung setelah Trump menyampaikan keinginannya untuk mengurangi latihan militer bersama.
Sebelumnya, Lee menyambut keputusan Trump tersebut. Ia juga menyinggung pentingnya memperkuat pertahanan nasional Korea Selatan secara mandiri dan menilai perkembangan tersebut dapat membuka peluang memasuki fase baru dalam hubungan antara Seoul dan Pyongyang.
Namun, pernyataan tersebut justru menjadi sasaran kritik Kim Yo Jong.
Menurutnya, upaya pemerintah Seoul menggambarkan perubahan kebijakan latihan militer sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan antar-Korea tidak lebih dari alasan untuk menutupi situasi yang sebenarnya.
“Penguasa Seoul mencoba mengalihkan perhatian dengan menyebut sebagai kesempatan untuk beralih ke fase baru atau titik awal baru yang bisa membawa perubahan dalam hubungan, siapapun bisa melihat ini adalah alasan yang lemah,” kata Kim Yo Jong.
Ia menilai perubahan tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh Amerika Serikat terhadap kebijakan pertahanan Korea Selatan.
Trump Sebut Latihan Militer Bisa Memicu Permusuhan
Komentar Kim Yo Jong muncul setelah Trump meminta pasukan Amerika Serikat mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan.
Trump bahkan menilai latihan semacam itu tidak pantas karena dapat meningkatkan permusuhan. Pandangan tersebut memiliki kemiripan dengan narasi yang selama ini disampaikan pemerintah Korea Utara yang menganggap latihan gabungan AS dan Korea Selatan sebagai ancaman terhadap Pyongyang.
Trump juga mengakui bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan hubungannya dengan Kim Jong Un.
Latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan selama ini menjadi salah satu isu yang paling sensitif di Semenanjung Korea. Pyongyang berulang kali mengecam latihan tersebut dan menganggapnya sebagai persiapan untuk melakukan serangan terhadap Korea Utara.
Di sisi lain, Washington dan Seoul selama ini mempertahankan latihan gabungan sebagai bagian dari kesiapan pertahanan menghadapi ancaman dari Korea Utara.
Pernyataan terbaru Kim Yo Jong menunjukkan bahwa perubahan sikap Amerika Serikat terhadap latihan militer tidak hanya menjadi perhatian di Seoul, tetapi juga dimanfaatkan Pyongyang untuk kembali menyerang kebijakan pertahanan Korea Selatan.
Kim Yo Jong juga menggunakan situasi tersebut untuk menekankan pandangan Korea Utara bahwa dukungan keamanan Amerika Serikat kepada Korea Selatan memiliki konsekuensi dan tidak diberikan secara cuma-cuma.
“Lebih lanjut, Yo Jong mengatakan dunia sedang menyaksikan bahwa dukungan keamanan AS tidak gratis,” demikian laporan tersebut.
Dengan munculnya pernyataan tersebut, isu latihan militer AS-Korea Selatan kembali menjadi bagian dari ketegangan politik di Semenanjung Korea. Sementara Seoul berusaha menyeimbangkan hubungan dengan Washington dan upaya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang, Korea Utara justru menggunakan perkembangan tersebut untuk mempertanyakan kemandirian pertahanan Korea Selatan.
