- Misteri Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran Masih Jadi Sorotan
- Sidang Maradona Memanas, Polisi Lerai Dua Pengacara
- Aung San Suu Kyi Belum Terlihat Sejak 2022, Keluarga Minta Kepastian
- Vonis Baru Yoon Suk Yeol, Pengadilan Tambah Hukuman 2 Tahun Penjara
- Serangan Drone Ukraina Sasar Kilang dan Depot Minyak Rusia
Misteri Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran Masih Jadi Sorotan
POTRET BERITA — Keberadaan fasilitas nuklir bawah tanah milik Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan bahwa negara tersebut menyimpan sentrifus pengayaan uranium di kedalaman sekitar 100 meter di bawah Pegunungan Pickaxe, yang berada di kawasan Natanz.
Lokasi ini disebut-sebut menjadi salah satu target yang ingin dihancurkan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump dikabarkan sempat mengincar gerbang utama kompleks tersebut sebagai bagian dari upaya melumpuhkan fasilitas penyimpanan uranium yang telah diperkaya milik Iran.
Sentrifus yang digunakan untuk proses pengayaan uranium diyakini berada di bawah Gunung Kuh-e Kolang Gaz La. Nama gunung tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Pickaxe, sebagaimana disebutkan oleh Institute for Science and International Security (ISIS).
Pembangunan kompleks bawah tanah itu dilaporkan dimulai pada 2020. Saat itu Iran memberi tahu Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bahwa fasilitas tersebut akan digunakan sebagai lokasi perakitan sentrifus untuk mendukung program energi nuklir.
Meski demikian, hingga kini informasi mengenai desain maupun aktivitas di dalam kompleks tersebut masih sangat terbatas. Tidak ada denah resmi yang dipublikasikan sehingga para analis hanya mengandalkan citra satelit untuk mempelajari perkembangan di lokasi.
Berdasarkan analisis terbaru ISIS, kawasan tersebut memiliki beberapa jaringan terowongan, perimeter keamanan yang luas, serta pintu masuk yang diperkuat beton untuk meningkatkan perlindungan dari kemungkinan serangan udara.
Diduga belum beroperasi
Sejumlah pakar memperkirakan fasilitas di bawah Pegunungan Pickaxe hingga saat ini masih berada dalam tahap pembangunan dan belum beroperasi penuh.
Aktivitas konstruksi disebut mengalami peningkatan dalam setahun terakhir, terutama setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran lainnya pada Juni 2025. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran adalah kompleks pengayaan uranium Natanz yang letaknya tidak jauh dari Gunung Pickaxe.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai terdapat beberapa kemungkinan terkait pembangunan fasilitas tersebut. Iran bisa saja sedang membangun lokasi baru untuk merakit sentrifus sesuai penjelasan yang pernah disampaikan kepada IAEA. Namun, tidak menutup kemungkinan fasilitas itu juga dipersiapkan untuk menggantikan operasi dari kompleks lain yang rusak akibat serangan, atau bahkan digunakan sebagai lokasi rahasia pengayaan uranium.
Kecurigaan lain datang dari intelijen Israel. Berdasarkan informasi yang dikutip CNN, sebagian stok uranium yang telah diperkaya serta sentrifus canggih milik Iran diduga dipindahkan ke Gunung Pickaxe setelah serangan udara pada Juni lalu.
Selama konflik yang berlangsung selama 12 hari, Israel melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Natanz, Isfahan, dan Fordow. Operasi tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah ilmuwan yang terlibat dalam program pengembangan nuklir Iran.
Menjelang berakhirnya konflik, Amerika Serikat ikut melakukan serangan terhadap tiga fasilitas yang sama menggunakan bom berdaya ledak tinggi. Presiden Donald Trump mengklaim operasi tersebut berhasil melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.
Meski begitu, baik Amerika Serikat maupun Israel diketahui tidak menyerang fasilitas yang berada di kawasan Gunung Pickaxe. Hingga kini, kompleks bawah tanah tersebut masih menjadi salah satu lokasi paling misterius dalam program nuklir Iran dan terus menjadi perhatian komunitas internasional.
