- Gelombang Protes Guncang Serbia, Publik Minta Aleksandar Vucic Diganti
- BPA Fair 2026 Catat Penjualan 300 Barang Sitaan
- Serangan Drone Hantam Generator Listrik Pembangkit Nuklir Barakah
- Nauru Ikuti Jejak Negara yang Lepas Nama Kolonial
- BNPB Pastikan Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Telah Ditemukan
Gelombang Protes Guncang Serbia, Publik Minta Aleksandar Vucic Diganti
POTRET BERITA — Gelombang protes besar kembali mengguncang Serbia setelah ratusan ribu warga turun ke jalan di ibu kota Beograd untuk menuntut percepatan pemilihan presiden. Demonstrasi tersebut menjadi bentuk tekanan publik terhadap pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic yang dinilai gagal menangani berbagai persoalan dalam negeri.
Aksi massa yang berlangsung di Beograd itu diperkirakan melibatkan sekitar 190 ribu demonstran. Mereka mendesak pemerintah segera menggelar pemilihan presiden lebih awal guna mengganti kepemimpinan nasional saat ini. Padahal, jadwal resmi pemilihan presiden Serbia baru akan dilaksanakan pada Mei 2027.
Demonstrasi besar tersebut dipicu insiden robohnya kanopi stasiun kereta di Kota Novi Sad pada November 2024 lalu. Tragedi itu menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan publik terhadap pemerintah Serbia.
Masyarakat merasa pemerintah lalai dalam mengelola infrastruktur publik dan menduga adanya praktik korupsi dalam proyek pembangunan fasilitas tersebut. Semenjak insiden terjadi, kelompok oposisi dan gerakan mahasiswa terus mendesak dilakukan investigasi transparan terhadap dugaan penyimpangan yang terjadi.
Tuntutan Pilpres Dipercepat Menguat

Tekanan terhadap pemerintahan Vucic sebenarnya sudah berlangsung sejak awal 2025. Pada Maret lalu, demonstrasi serupa bahkan disebut melibatkan lebih dari 300 ribu peserta yang memadati jalan-jalan utama di Beograd.
Aksi terbaru kembali menghidupkan tuntutan agar pemilihan presiden dipercepat. Para demonstran menilai pemerintahan saat ini sudah kehilangan kepercayaan publik setelah tragedi di Novi Sad.
Kelompok independen Arhiv javnih skupova (AJS), yang dikenal sebagai lembaga pemantau aksi massa di Serbia, memperkirakan jumlah peserta unjuk rasa kali ini mencapai 180 ribu hingga 190 ribu orang. Menurut AJS, demonstrasi tersebut menjadi aksi protes terbesar kedua di Serbia sejak jatuhnya rezim Slobodan Milosevic pada tahun 2000.
Sementara itu, pihak kepolisian Serbia memberikan angka yang jauh lebih rendah. Kepala Kepolisian Nasional Serbia, Dragan Vasiljevic, menyebut jumlah peserta aksi hanya sekitar 34.300 orang.
Perbedaan data jumlah massa antara kepolisian dan lembaga pemantau independen memang kerap terjadi dalam berbagai demonstrasi di Serbia.
Situasi sempat memanas setelah bentrokan pecah antara aparat keamanan dan sejumlah demonstran bertopeng. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang melempar batu usai aksi utama berakhir.
Akibat kericuhan tersebut, lebih dari 20 orang dilaporkan ditangkap aparat keamanan Serbia.
