- Usai Selesaikan Lawatan ke Rusia dan Prancis, Prabowo Tiba di Indonesia
- Vatikan dan Vietnam Perkuat Hubungan Dengan Kunjungan Paus
- Korsel Peringatkan Warganya soal Kriminalitas di Bali
- Kasus Tewasnya WNI di Australia, Polisi Tangkap Pria 67 Tahun
- Sugianto, PMI Penyelamat Lansia Dapat Apresiasi dari Pemerintah Korsel
Trump Tolak Bertemu Putin, Negosiasi Buntu
POTRET BERITA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak membatalkan rencana pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Trump mengaku frustrasi dengan mandeknya negosiasi damai perang Rusia-Ukraina, yang menurutnya tidak menunjukkan kemajuan berarti sejak awal masa jabatannya.
Dalam konferensi pers yang dikutip Reuters, Trump mengungkapkan bahwa setiap kali berbicara dengan Putin, hasilnya selalu tampak positif di awal, namun tidak ada tindak lanjut nyata di lapangan.
“Sejujurnya, setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, pembicaraan kami selalu baik. Tapi setelah itu, tidak ada kemajuan sama sekali,” ujar Trump.
Trump menyebut alasan utama pembatalan pertemuan adalah karena “waktu yang tidak tepat” dan kurangnya hasil konkret dari negosiasi sebelumnya.
“Saya membatalkannya karena rasanya belum saatnya. Kami belum akan sampai ke tujuan yang seharusnya. Tapi kami akan menjadwalkannya di masa mendatang,” tambahnya.
Pembatalan Dibarengi Sanksi Baru untuk Rusia
Langkah pembatalan pertemuan itu terjadi bersamaan dengan pengumuman sanksi ekonomi baru yang dikeluarkan Amerika Serikat terhadap sektor energi Rusia.
Sanksi tersebut menyasar dua raksasa minyak, Lukoil dan Rosneft, sebagai bentuk tekanan atas operasi militer berkelanjutan Rusia di Ukraina.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut kebijakan ini bertujuan memukul sumber pendanaan perang Kremlin.
“Mengingat penolakan Presiden Putin untuk mengakhiri perang yang tidak masuk akal ini, Departemen Keuangan memberikan sanksi kepada dua perusahaan minyak yang mendanai mesin perang Rusia,” jelas Bessent.
Trump menegaskan bahwa sanksi ini bersifat sementara, dengan harapan Rusia mau menghentikan agresinya dan membuka kembali jalur diplomasi.
Usulan Trump untuk Mengakhiri Perang Rusia-Ukraina
Sejak masa kampanye kepresidenannya, Trump dikenal dengan janji berani: mengakhiri perang Rusia-Ukraina dalam waktu 24 jam.
Namun, setelah 10 bulan menjabat, konflik justru belum menunjukkan tanda-tanda mereda, membuatnya semakin kecewa dengan proses diplomatik yang buntu.
Dalam pernyataannya pada Minggu (19/10), Trump kembali menyerukan penghentian total pertempuran di garis depan saat ini.
“Yang saya katakan adalah mereka harus berhenti sekarang juga di garis pertempuran. Pulang, berhenti membunuh orang, dan selesaikan semuanya,” tegas Trump.
Menurut Trump, wilayah Donbas yang menjadi pusat industri Ukraina sudah terlalu lama menjadi medan pertempuran.
Ia bahkan menilai Rusia telah menguasai sekitar 78 persen wilayah konflik, dan menyarankan agar kondisi terkini dijadikan dasar awal perundingan damai.
“Biarkan saja wilayah itu seperti sekarang, nanti bisa dirundingkan lagi,” ujarnya.
Usulan ini disebut sebagai pendekatan pragmatis yang bertujuan menghentikan pertumpahan darah secepat mungkin, meski berpotensi menimbulkan kontroversi karena dianggap memberi keuntungan bagi Rusia.
Respons Dunia Internasional
Negara-negara Eropa menyambut baik seruan Trump untuk menghentikan pertempuran, namun tetap menuding Putin sebagai penghambat utama perdamaian.
“Taktik mengulur waktu Rusia menunjukkan bahwa Ukraina adalah satu-satunya pihak yang sungguh-sungguh menginginkan perdamaian,” bunyi pernyataan bersama sejumlah pemimpin Eropa.
Sebaliknya, Kremlin langsung menolak gagasan tersebut.
Juru bicara Rusia, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Putin tidak akan menyetujui proposal pembekuan perang, dan menegaskan posisi Rusia tetap konsisten seperti sebelumnya.
Analisis: Strategi Tekanan Politik Trump
Pengamat politik internasional menilai pembatalan pertemuan Trump-Putin adalah strategi tekanan politik, bukan sepenuhnya penolakan diplomatik.
Dengan menunda dialog, Trump ingin meningkatkan leverage AS agar Rusia bersedia berkompromi di meja perundingan — sambil menunjukkan ketegasan kepada publik Amerika dan sekutu NATO.
Namun, banyak pihak juga memperingatkan bahwa pendekatan sanksi dan tekanan semata bisa memperpanjang konflik jika tidak diimbangi langkah diplomatik nyata.
