- Usai Selesaikan Lawatan ke Rusia dan Prancis, Prabowo Tiba di Indonesia
- Vatikan dan Vietnam Perkuat Hubungan Dengan Kunjungan Paus
- Korsel Peringatkan Warganya soal Kriminalitas di Bali
- Kasus Tewasnya WNI di Australia, Polisi Tangkap Pria 67 Tahun
- Sugianto, PMI Penyelamat Lansia Dapat Apresiasi dari Pemerintah Korsel
Thailand Akan Kembali Larang Penggunaan Ganja
POTRET BERITA —Srettha Tashivisin, Perdana Menteri Thailand, akan kembali memasukkan ganja sebagai golongan narkoba pada akhir 2024.
Keputusan tersebut diambil setelah dua tahun terakhir Thailand menjadi negara pertama di Asia yang mendekriminalisasi penggunaan ganja untuk kesenangan.

Selain itu, langkah ini juga diambil usai pertumbuhan pesat sektor perdagangan ganja dengan puluhan ribu toko dan bisnis yang muncul di Thailand. Diperkirakan, indistri ini bernilai hingga US$1,2 miliar pada 2025.
“Saya mau Kementerian Kesehatan mengamendemen aturan dan kembali memasukkan ganja sebagai narkotika,” kata Srettha dalam akun X dikutip dari CNA.
Bukan hanya itu, dia juga meminta Kementerian Kesehatan Thailand segera mengeluarkan aturan dan hanya memperbolehkan penggunaan ganja untuk kesehatan dan kebutuhan medis.
Seperti diketahui, Pemerintah Thailand sudah mendekriminalisasi ganja untuk penggunaan medis pada 2018 dan penggunaan untuk rekreasi pada 2022.
Langkah tersebut sebenarnya menuai kritik, sebab dinilai menimbulkan kebingungan pada aturan dan regulasi.
Srettha mengatakan, narkoba merupakan masalah yang menghancurkan masa depan negara.
“Banyak anak muda yang kecanduan. Kita harus bekerja cepat, menyita aset (pengedar narkoba) dan memperluas pengobatan,” katanya.

Sementara itu, Sekjen Jaringan Masa Depan Ganja Thailand Prasitchai Nunual berpendapat kriminalisasi atau pelarangan ganja akan jadi satu langkah buruk bagi sektor perekonomian dan berdampak pada usaha kecil dan konsumen.
“Banyak orang telah mengembangbiakkan ganja dan membuka toko ganja. Itu semua nantinya akan ditutup,” kata Prasitchai.
