- Pencegahan ke Luar Negeri Eks Menag Yaqut dan Gus Alex Diperpanjang KPK
- Eks Kapolres Bima Positif Narkoba, Uji Rambut Nyatakan Positif
- Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae Masuk Tahap Suksesi Kekuasaan
- Dua Pejabat Kunci Downing Street Mundur Usai Skandal Epstein Seret Pemerintahan Starmer
- Rusia Desak Investigasi Kematian Putra Khadafi
Pemerintah Korut Paksa Pelajar Angkut Batu Setiap Hari untuk Bangun Tanggul
POTRET BERITA — Sejumlah pelajar di Korea Utara dilaporkan mengalami kehilangan kesehatan, luka-luka, hingga mimisan akibat kelelahan setelah pemerintah di bawah kepemimpinan Kim Jong Un mewajibkan mereka mengangkut batu setiap hari demi pembangunan tanggul pengendali banjir.
Berdasarkan laporan Radio Free Asia (RFA) pada Kamis (26/6/2025), rezim Kim Jong Un mengerahkan siswa dari tingkat sekolah dasar hingga menengah di Provinsi Ryanggang, wilayah utara Korea Utara, untuk membantu pembangunan tanggul sebelum musim hujan tiba.
Tugas Berat Picu Cedera dan Masalah Kesehatan
Seorang sumber di sektor pendidikan mengungkapkan bahwa setiap siswa diwajibkan menyumbangkan lima batu seukuran bola sepak setiap harinya.
“Banyak pelajar mengalami kecelakaan. Ada yang tangannya luka karena menambang batu, dan tak sedikit pula yang mimisan saat tidur akibat terlalu lelah,” ungkap sumber tersebut.
Tugas fisik berat ini dilakukan setelah siswa menyelesaikan kegiatan belajar formal mereka. Mereka diarahkan bekerja mulai pukul 14.00 hingga 18.00di berbagai lokasi pengumpulan batu.
Beberapa titik lokasi tersebut termasuk tambang tua di Yeonbong-dong dan Tambang Pemuda Hyesan, di mana para siswa dari wilayah pinggiran kota Hyesan dipaksa mencari batu.
Upaya Mencegah Banjir Jelang Musim Hujan
Kebijakan ini merupakan bagian dari respon darurat pemerintah Korea Utara untuk memperbaiki tanggul yang rusak akibat banjir bandang besar pada tahun lalu, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur sungai.
Pemerintah berupaya mempercepat pembangunan tanggul di Sungai Geumsan, yang mengalir menuju Sungai Amnok. Namun, kekurangan material—terutama batu—membuat proyek tersebut tertunda. Untuk mengatasi kekurangan itu, pelajar dijadikan tenaga tambahan.
“Pembangunan tanggul Sungai Geumsan seharusnya selesai Juni, tetapi masih berlangsung karena kekurangan batu,” terang sumber tersebut.
Protes dari Para Orang Tua
Kebijakan ini menuai protes keras dari para orang tua yang khawatir akan keselamatan dan kesehatan anak-anak mereka.
Namun, hingga kini belum ada indikasi bahwa pemerintah Korea Utara akan menghentikan pengerahan siswa.
Sementara itu, media pemerintah Korut melaporkan bahwa curah hujan tinggi telah melanda wilayah Pyongyang dan provinsi-provinsi utara, bahkan badan cuaca Korea Utara telah mengeluarkan peringatan hujan deras menjelang puncak musim hujan antara Juni hingga September.
Sebagai informasi, pemanfaatan tenaga pelajar untuk proyek infrastruktur di Korea Utara memperlihatkan kurangnya sumber daya dan ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi bencana alam seperti banjir.
Meski proyek tanggul ini bertujuan mencegah bencana, pengorbanan fisik anak-anak sekolah justru memicu kritik keras, termasuk dari kalangan orang tua yang menyayangkan tindakan otoriter tersebut.
