Angka Bunuh Diri Laki-Laki 3 Kali Lipat Lebih Besar

Potretberita.com – Angka bunuh diri yang dilakukan orang-orang di seluruh dunia memang banyak. Namun, penelitian membuktikan bahwa jumlah angka bunuh diri bagi laki-laki ternyata tiga kali lipat lebih banyak daripada perempuan.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa laki-laki memang banyak yang sedang berjuang dari kesehatan mentalnya.

19 November merupakan hari¬†International Men’s Day. Hari ini di buat untuk menyoroti masalah-masalah tentang kesehatan mental yang dialami oleh pria. Pada tanggal ini, masyarakat dunia khususnya mendorong para laki-laki untuk berbicara dan menawarkan penyelesaian dari permasalahan yang mereka alami.

Umumnya, memang laki-laki memiliki garis batas usia 5 tahun kurang dari perempuan.

Asosiasi Kesehatan Mental Kanada menyatakan bahwa jumlah gender dalam kasus bunuh diri terbesar adalah laki-laki. Penelitian pun membuktikan bahwa laki-laki tidak suka berterus terang tentang apa yang ia alami dan apa yang ia rasakan. Laki-laki cenderung akan melakukan sesuatu yang berbahaya ketika ia stress.

Ada empat faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kesehatan mental pria. Alkohol dan penyalahgunaan narkoba, isolasi sosial, kecenderungan untuk memilih metode bunuh diri yang lebih mematikan dan keengganan untuk mencari bantuan.

Banyak pria yang beranggapan bahwa jika mereka menunjukkan emosinya, berarti ia bukanlah pria sejati. Lingkungan sosialnya akan beranggapan bahwa pria yang menunjukkan emosinya adalah pria yang lemah.

Salah satu alasan pria bunuh diri dalam jumlah besar juga bisa jadi mereka diperlakukan berbeda dari wanita ketika mereka meminta bantuan.

Baca Juga: Pochettino Dipecat Dari Tottenham Hotspur

Penelitian baru oleh Movember Foundation menemukan bahwa pria masih kesulitan untuk berbicara tentang kesehatan mental di tempat kerja. Mengapa? Takut akan kehilangan pekerjaannya atau takut akan komentar negatif yang akan beredar.

Ini dapat berkontribusi pada tingkat depresi yang lebih tinggi, serta bunuh diri. Tempat kerja perlu secara konkret berkomitmen untuk berubah dalam cara mendukung orang dengan masalah kesehatan mental. Pastikan perubahan itu terjadi.

“Upaya untuk mengubah sikap dengan menciptakan kesadaran tetapi kemudian menyediakan sumber daya yang tidak memadai (seperti cakupan yang rendah untuk perawatan psikologis) mengatakan, “Kami mengakui bahwa kami memiliki masalah, tetapi kami tidak peduli,” katanya. “Itu membuat orang diam, karena apa gunanya?”

Bagaimana Cara Mencegah?

Perlu ada perubahan total dalam paradigma maskulinitas yang ada di dalam budaya kita.

Adanya pertanggung jawaban kolektif dari masyarakat dalam memberikan definisi “arti menjadi seorang pria”.

Harus ada paradigma baru tentang definisi gender. Mencari bantuan dan berbicara tentang perjuangan hidup itu tidak ada salahnya. Ini bukan berarti bahwa mereka lemah, tetapi ini berarti bahwa mereka kuat.

Sementara itu, beragam cara untuk mengakses bantuan dan dukungan perlu tersedia. Misalnya, memanfaatkan teknologi mungkin menjadi cara untuk membantu pria yang ingin tetap anonim.