- Selat Hormuz Kembali Memanas, Kapal Komersial Dihantam di Dekat Qeshm
- Spanyol Tawarkan Ratusan Juta untuk Pendatang yang Mau Tinggal di Desa
- Sengketa Air Indus Jadi Babak Baru Konflik India dan Pakistan
- Dua Titik Api Masih Membara di Semeru, Angin Ganggu Pemadaman
- Tragedi Banjir Nepal, Ratusan Jasad Dimakamkan di Hutan Chitwan
Selat Hormuz Kembali Memanas, Kapal Komersial Dihantam di Dekat Qeshm
POTRET BERITA — Sebuah kapal dagang dilaporkan mengalami serangan di sekitar Selat Hormuz, Iran, pada Minggu (13/9) dini hari. Insiden tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka.
Pihak berwenang Iran belum memastikan siapa yang berada di balik serangan terhadap kapal tersebut. Peristiwa terjadi ketika ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut masih berlangsung di tengah konflik Iran dan Amerika Serikat.
Gubernur Kota Qeshm Amir Teymouri membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyebut kapal komersial itu dihantam sekitar pukul 05.00 waktu setempat di perairan lepas pantai Pulau Hengam dan Qeshm.
“Sebuah kapal komersial dihantam sekitar pukul 05.00 pagi ini di lepas pantai Pulau Hengam dan Qeshm. Satu orang tewas dan tiga orang lainnya luka-luka,” kata Amir, seperti dikutip AFP.
Selain serangan terhadap kapal, sejumlah ledakan juga terdengar di sekitar Qeshm sepanjang malam. Qeshm merupakan pulau terbesar yang berada di kawasan Selat Hormuz.
Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai jenis kapal yang menjadi sasaran maupun penyebab pasti ledakan tersebut.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik
Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum Iran dijadwalkan bertemu dengan sejumlah negara Teluk di Oman. Pertemuan itu akan membahas kondisi Selat Hormuz, jalur laut yang memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dan gas dunia.
Letak Selat Hormuz menjadikannya salah satu jalur pelayaran paling strategis. Perairan tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman yang menjadi rute penting bagi pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah.
Dalam konflik yang telah berlangsung selama sekitar enam bulan, penguasaan dan akses terhadap Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama antara Iran dan Amerika Serikat.
Iran sebelumnya mengambil langkah untuk membatasi pelayaran di selat tersebut setelah perang yang disebut dimulai pada 28 Februari menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelum konflik berlangsung, kapal-kapal dapat melintasi jalur tersebut tanpa persyaratan khusus. Namun, Iran kemudian memberlakukan kewajiban bagi kapal yang hendak melintas untuk memperoleh izin.
Tehran menyatakan kebijakan tersebut berkaitan dengan faktor keamanan dan kedaulatan Iran. Pemerintah Iran juga tengah mempertimbangkan mekanisme untuk mengenakan biaya layanan bagi kapal yang melewati jalur tersebut.
Situasi ini membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz semakin berisiko. Kapal yang dianggap tidak mematuhi ketentuan Iran disebut dapat menjadi sasaran serangan.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga melakukan sejumlah serangan terhadap wilayah pesisir Iran. Tindakan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya Washington untuk mengurangi kendali Tehran terhadap jalur strategis tersebut.
Insiden terbaru terhadap kapal dagang menambah kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Apalagi, perairan tersebut memiliki posisi penting bagi distribusi energi global sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi berdampak lebih luas terhadap perdagangan internasional.
