- Usai Selesaikan Lawatan ke Rusia dan Prancis, Prabowo Tiba di Indonesia
- Vatikan dan Vietnam Perkuat Hubungan Dengan Kunjungan Paus
- Korsel Peringatkan Warganya soal Kriminalitas di Bali
- Kasus Tewasnya WNI di Australia, Polisi Tangkap Pria 67 Tahun
- Sugianto, PMI Penyelamat Lansia Dapat Apresiasi dari Pemerintah Korsel
Ribuan Warga Australia Turun ke Jalan, Protes Rasisme hingga Anti-Imigran
POTRET BERITA — Ribuan orang dari berbagai latar belakang politik dan sosial turun ke jalan dalam demonstrasi besar-besaran di Australia pada Sabtu (13/9/2025). Aksi ini berlangsung serentak di berbagai negara bagian dan menjadi salah satu gelombang protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan ABC News, massa berunjuk rasa di Victoria, New South Wales, Queensland, Australia Selatan, Tasmania, Australia Barat, serta Wilayah Ibu Kota Australia. Mereka memadati jalanan kota-kota besar, mulai dari Melbourne, Sydney, Brisbane, Adelaide, Hobart, Perth, Canberra, hingga Darwin.
Pusat Aksi di Melbourne

Salah satu titik konsentrasi massa berada di Kota Melbourne. Ribuan orang berkumpul di sekitar Stasiun Flinders Street, sambil membawa berbagai simbol perjuangan, seperti bendera Aborigin dan bendera Palestina. Polisi dikerahkan dalam jumlah besar untuk menjaga ketertiban sepanjang jalannya aksi.
Pemicu utama demonstrasi di Melbourne adalah serangan terhadap kamp First Nations di Kings Domain sekitar dua pekan lalu. Serangan tersebut dilakukan oleh kelompok neo-Nazi yang dipimpin Thomas Sewell, yang kini telah ditahan aparat.
Aksi massa di Australia kali ini menampilkan keragaman tuntutan yang bahkan bertolak belakang antara satu kelompok dengan kelompok lain.
- Kelompok sayap kiri dan progresif menyerukan perlawanan terhadap rasisme, fasisme, dan neo-Nazi. Mereka juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap komunitas Aborigin dan menuntut sikap tegas pemerintah dalam melawan ujaran kebencian.
- Kelompok sayap kanan justru mengusung isu berbeda. Di Sydney, misalnya, lebih dari 3.000 orang berkumpul di sekitar Town Hall dan Hyde Park dengan membawa agenda anti-imigrasi, anti-vaksinasi, penolakan terhadap sistem cashless, hingga kritik terhadap energi terbarukan.
Situasi ini membuat satu kota bisa menjadi tuan rumah bagi demonstrasi dengan isu yang saling berseberangan, meskipun dilakukan di waktu hampir bersamaan.
Aksi di Berbagai Kota
Selain di Melbourne dan Sydney, unjuk rasa juga digelar di sejumlah kota besar lain:
- Brisbane: ribuan orang berorasi menentang diskriminasi rasial dan menyerukan persatuan lintas budaya.
- Adelaide & Hobart: demonstrasi diwarnai aksi seni jalanan dan hening cipta mengenang korban intoleransi.
- Perth, Canberra, dan Darwin: kelompok massa mengangkat isu lingkungan, energi hijau, hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah federal.
Pengaruh Isu Internasional
Aksi di Australia juga dipengaruhi oleh dinamika global. Salah satu isu yang ikut mencuat adalah kematian Charlie Kirk, aktivis sayap kanan dan loyalis Donald Trump asal Amerika Serikat, yang tewas dalam penembakan.
Kelompok sayap kanan di Australia menjadikan peristiwa itu sebagai simbol perjuangan mereka. Beberapa peserta aksi bahkan mengibarkan bendera dan melakukan hening cipta sebagai bentuk penghormatan.
Meski jumlah massa mencapai ribuan di berbagai kota, secara umum demonstrasi berlangsung damai. Polisi tetap berjaga di titik-titik rawan untuk mencegah bentrokan antar kelompok yang membawa agenda berbeda.
Aksi Sabtu lalu menegaskan bahwa isu rasisme, imigrasi, dan kebijakan pemerintah masih menjadi topik sensitif di Australia, serta memperlihatkan polarisasi politik yang makin tajam di masyarakat.
