- Usai Selesaikan Lawatan ke Rusia dan Prancis, Prabowo Tiba di Indonesia
- Vatikan dan Vietnam Perkuat Hubungan Dengan Kunjungan Paus
- Korsel Peringatkan Warganya soal Kriminalitas di Bali
- Kasus Tewasnya WNI di Australia, Polisi Tangkap Pria 67 Tahun
- Sugianto, PMI Penyelamat Lansia Dapat Apresiasi dari Pemerintah Korsel
Iran Putuskan Hubungan dengan IAEA Setelah Serangan Israel-AS
POTRET BERITA — Kerja sama Iran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) resmi dihentikan sebagai respons atas serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah situs nuklirnya dalam perang yang berlangsung 12 hari lalu.
Keputusan ini diambil setelah parlemen Iran meloloskan rancangan undang-undang terkait penangguhan kerja sama dengan IAEA. RUU tersebut kemudian disahkan oleh Dewan Wali dan diteken resmi oleh Presiden Masoud Pezeshkian.
Media pemerintah Iran melaporkan, undang-undang ini tidak merinci langkah-langkah konkret berikutnya pasca penangguhan, namun dampaknya mulai terasa.
Berdasarkan kantor berita ISNA, para inspektur IAEA kini harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iransebelum bisa mengakses fasilitas nuklir.
Sementara itu, kantor berita Mehr melaporkan bahwa Iran akan berhenti mengizinkan pemasangan kamera IAEA di fasilitas-fasilitas nuklir, meski belum jelas apakah ketentuan ini bagian dari undang-undang yang baru disahkan.
Langkah Iran ini diklaim untuk menjaga hak-hak negara itu dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), khususnya hak untuk melakukan pengayaan uranium.
Kecaman Internasional dan Ketegangan Nuklir
Langkah Iran langsung menuai kecaman dari berbagai pihak. Amerika Serikat menyebut keputusan ini sebagai pilihan yang keliru. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menilai Iran telah melewatkan peluang untuk membangun perdamaian dan kesejahteraan.
Dari Eropa, Jerman melalui juru bicara Martin Giese menilai keputusan Iran sebagai “sinyal bencana”. Bahkan, Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya memprihatinkan dan berpotensi memperburuk situasi keamanan global.
Pemutusan hubungan ini terjadi setelah Iran mengalami serangan besar yang dilakukan oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Pada 22 Juni, fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan diserang dengan bom bunker GBU-57 dan rudal Tomahawk.
Iran mengonfirmasi adanya kerusakan serius serta lebih dari 900 korban tewas, termasuk ilmuwan nuklir dan pejabat militer senior.
Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, serangan tersebut adalah pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Iran dan menjadi dasar keputusan untuk menghentikan kerja sama dengan IAEA.
