Jokowi Enggan Minta Bantuan Asing, Mahfud MD: Kalau Ada yang Mau Bantu Kita Terima

POTRET BERITA — Dalam penanganan pandemi Covid-19 di tanah air Presiden Joko Widodo (Jokowi) enggan untuk meminta bantuan kepada negara lain. Hal ini disampaikan oleh Presiden Jokowi kepada para jajarannya seperti yang telah diungkapkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam dialog dengan sejumlah tokoh agama yang digelar secara virtual.

Dialog tersebut dihadiri sejumlah tokoh agama Konghuchu, Hindu, dan Budha dalam rangka penanganan Covod-19 yang digelar secara virtual, Kamis, 29 Juli 2021. Meski begitu, Negara Indonesia tak mau bersikap arogan atau sombong.

Mahfud mengatakan, Jokowi pun berpesan agar tetap menerima negara lain yang hendak memberi bantuan. Menurut Mahfud, ia mengklaim bantuan dari negara lain datang tanpa diminta.

“Kalau minta bantuan itu enggak. Kita sudah dibilang oleh Pak Presiden kita jangan minta bantuan. Tapi kalau ada yang mau membantu kita terima, dan itu bantuan datangnya tanpa kita minta,” kata Mahfud.

Menurut Mahfud, pemerintah tak merasa malu saat Indonesia menerima banyak bantuan dari negara lain. Mahfud mengatakan tindakan memberi dan menerima bantuan biasa dilakukan dalam hubungan internasional.

Sebagai negara yang tak kaya, kata Mahfud, Indonesia juga memberikan bantuan ke Australia saat negara tersebut itu dilanda kebakaran hutan dan Jepang saat dilanda tsunami.

“Australia terima kasihnya bukan main (kepada Indonesia),” ujar Mahfud.

 

Banyak Bantuan dari Negara Lain

Sebaliknya, saat Indonesia dilanda bencana banyak bantuan yang masuk dari berbagai negara. Ia mencontohkan bantuan berdatangan dari Singapura Amerika Serikat, dan negara lainnya saat kasus Covid-19 di Indonesia meledak.

“Enggak malu-malu karena kita enggak minta juga dibantu, tapi juga kita punya program impor, tidak menggabungkan pada bantuan itu,” katanya.

Dalam forum tersebut, salah satu Rohaniawan dari agama Konghuchu Chandra Setiawan mengungkap perbedaan kapasitas produksi oksigen dalam negeri dengan kebutuhan masyarakat yang mencapai 1.300 ton. Chandra meminta agar pemerintah tak perlu malu meminta bantuan ke negara lain karena kapasitas produksi dalam negeri tidak memungkinkan.

“Kan kongkrit pemerintah harus segera mengimpor, negara mana yang bisa membantu. Ya kita tidak usah malu-malu meminta bantuan karena oksigen ini sangat dibutuhkan,” kata Chandra.

Hal ini berbeda dengan sebelumnya. Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan awal bulan Juli 2021 menyebutkan, bahwa Indonesia telah meminta bantuan kepada Singapura hingga China. Upaya tersebut bagian dari rencana pemerintah untuk menghadapi lonjakan 40 ribu hingga 70 ribu kasus per hari.

“Kita juga sudah komunikasi dengan Singapura, kita komunikasi juga dengan Tiongkok (China), dan komunikasi juga dengan sumber-sumber lain. Jadi sebenarnya semua komprehensif kita lakukan,” kata Luhut, Selasa, 6 Juli 2021.

Sejumlah bantuan dari Singapura, China, Uni Emirat Arab (UEA), hingga India pun telah tiba di Indonesia. Bantuan itu meliputi oksigen medis, alat pelindung diri (APD), masker, sampai vaksin Covid-19. Ahli epidemiologi sekaligus akademisi dan peneliti dari Lembaga Ahlina Institute dr Tifauzia Tyassuma memprediksi hingga masa jabatan Presiden Jokowi berakhir, pandemi Covid-19 belum juga berakhir.

“17 bulan yang lalu, waktu itu saya katakan, kalau melihat sifatnya pandemi ini berlangsung antara 18 -24 bulan. Artinya akan berhenti di akhir tahun 2022,” ujarnya dalam kanal Hersubeno Point di YouTube, Kamis, 29 Juli 2021.