- Usai Selesaikan Lawatan ke Rusia dan Prancis, Prabowo Tiba di Indonesia
- Vatikan dan Vietnam Perkuat Hubungan Dengan Kunjungan Paus
- Korsel Peringatkan Warganya soal Kriminalitas di Bali
- Kasus Tewasnya WNI di Australia, Polisi Tangkap Pria 67 Tahun
- Sugianto, PMI Penyelamat Lansia Dapat Apresiasi dari Pemerintah Korsel
Terpapar PMK, 208 Ekor Ternak di Jatim Mati
POTRET BERITA — Penyakit mulut dan kuku (PMK) menjangkit sejumlah hewan ternak di Jawa Timur. Hewan ternak yang terjangkit penyakit ini menembus angka 50.971 ekor. Setidaknya, sebanyak 208 ekor mati dan 178 ekor harus dipotong paksa karena terpapar PMK.
“Data per hari Jumat ya ada 50.971 hewan ternak yang terpapar PMK,” ujar Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, pada Senin (13/6).
“Hewan ternak yang mati akibat terpapar PMK ada sebanyak 208 ekor. Sementara saat ini ada 44.718 ekor yang masih sakit dan dalam masa perawatan,” terangnya.
Kabupaten/Kota yang tertular PMK
Sementara itu, di 27 kabupaten/kota yang termasuk wilayah kategori tertular adalah Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jombang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Jember, Magetan, Kota Surabaya.
Kemudian ada Tuban, Bojonegoro, Bangkalan, Kabupaten Madiun, Sumenep, Sampang, Kabupaten Kediri, Nganjuk, Ponorogo, Bondowoso, Kota Malang, Kota Probolinggo, Situbondo, Kota Kediri, Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Trenggalek, dan Pacitan.

Berdasarkan data tersebut, daerah yang mengalami kasus PMK tertinggi adalah Lumajang sebanyak 5.536, Malang 5.400 dan disusul Probolinggo 5.022.
Sedangkan, tujuh daerah yang berada Jatim yang masih terbebas dari PMK yakni Pamekasan, Kota Pasuruan, Kota Blitar, Tulungagung, Ngawi, Kota Madiun dan Kota Mojokerto.
Indyah mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya masih terus berupaya melakukan pengobatan pada hewan ternak yang terpapar PMK. Upaya tersebut mulai dari memberi analgesik hingga vitamin. Mereka juga masih menunggu produksi vaksin PMK yang dilakukan oleh Pusvetma Surabaya.
“Untuk mengatasi gejala klinis, kami melakukan pengobatan secara sistematis. Selain itu, kami juga melakukan vaksinasi yang didahulukan adalah sapi perah terlebih dulu kemudian baru sapi potong,” jelasnya.
