Kasus Roni Eka Mirsa Sang VP Awak Kabin Garuda

Potret Berita – Roni Eka Mirsa menjabat sebagai VP atau Vice President Awak Kabin Garuda Indonesia. Dikenal juga sebagai “Germo Jahat” oleh karyawan Garuda. Para pilot senior dan juga kawan-kawannya memanggil dia dengan sebutan “Provider”.

Roni Eka Mirsa Sebagai “Provider”

Disebut dengan Trio Lendir oleh akun @digeeeembok, Roni menjabat sebagai provider para pejabat atau direktur-direktur. Ia mem-provide pramugari untuk ‘disantap’ oleh pejabat dan juga direktur. Ketiga orang yang disebut Trio Lendir ini termasuk Ari Akshara dan Heri Akhyar.

Biasanya, Roni bertugas sebagai “Menteri Luar” dan juga “Menteri Dalam” di Garuda. Ia memperlakukan para pramugari sebagai wanita sewaan. Bukan hanya kepada para pejabat dan direktur, ia juga menyuguhkan para pramugari kepada para tamu pejabat.

Penjahat kelamin lebih tepatnya. Ia memperlakukan pramugari Garuda sebagai piala bergilir yang bisa dipakai oleh siapa saja. Isu beredar bahwa bila pramugari menolak, pramugari akan langsung diturunkan jabatannya atau dipecat.

Kasus Lain

Ternyata, Roni Eka Mirsa ini tidak memiliki background pendidikan apa-apa. Ketahuan ternyata ijazah S1-nya beli.

Juga, ia mempraktekkan nepotisme dalam perusahaan. Ia memasukkan anaknya menjadi pilot di perusahaan Garuda dengan metode “transaksi”.

Tambahan kasus nih, Roni Eka Mirsa ini ternyata punya “kacung” yang bernama Baskoro. Tugas Baskoro? Jadi “kacung” di Putri Novitasari Ramli, simpenan Ari Askhara. Baskoro ini sering disebut “Umbrella Man si Putri”.

Job desc-nya sebagai Umbrella Man adalah membuat simpenan Ari Askhara ini nyaman senyaman mungkin kerja di Garuda. Ia yang memilah-milah siapa saja yang boleh terbang bersama Putri.

Ini pun berkat bantuan satu member Trio Lendir, Heri Akhyar si Direktur Human Capital. Tugas Heri Akhyar adalah untuk memalsukan data dan memaksakan penerbangan internasional dengan isi awak kabin saja.

Baca Juga: Penuduh Kasus Pemerkosaan Di India Dibakar Oleh Tertuduh

Ia memaksakan penerbangan pulang-pergi dari Indonesia ke Australia dan Australia ke Indonesia dalam kurun waktu kurang dari sehari. Ini membuat para pilot dan crew cabin banyak yang mengalami fatigue yang berlebihan karena jam terbang yang tak terkontrol.

Ia juga terbukti telah memalsukan data general declaration.